Dari ART Jadi Guru, Lia Mengajar Anak Pemulung di Bekasi Di tengah permukiman sederhana Bintara Jaya, Bekasi Barat, nama Lia Sri Mulyani menjadi cerita yang menyentuh banyak orang. Setiap pagi, ia berdiri di depan anak anak dari keluarga pemulung dan pekerja serabutan di TK Inspirasi Indonesia. Setelah jam belajar selesai, Lia melanjutkan hari sebagai asisten rumah tangga untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Lia bukan guru dengan perjalanan yang serba mudah. Ia seorang ibu tunggal dengan lima anak. Pendidikan formalnya pun terbatas. Namun, ruang kelas kecil di Bintara Jaya membuatnya bertahan, karena di sana ada anak anak yang membutuhkan pintu belajar sebelum masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. KG Now menyebut Lia hanya menerima honor sekitar Rp 300.000 per bulan dari kegiatan mengajar, lalu tetap bekerja sebagai ART setelah selesai mengajar.
Lia Sri Mulyani dan Kelas Kecil di Bintara Jaya
Kisah Lia tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari TK Inspirasi Indonesia, sekolah sederhana yang berdiri di tengah lingkungan keluarga pemulung di Bintara Jaya, Bekasi Barat. Tempat ini hadir untuk anak anak yang sering berada di pinggir perhatian pendidikan.
Mengajar Anak yang Sering Tertinggal Akses Sekolah
JawaPos mencatat Lia merupakan perempuan kelahiran Garut, 7 November 1986, yang mengajar di TK Inspirasi Indonesia, sebuah sekolah yang dibangun untuk anak anak pemulung dan masyarakat kurang mampu di Bintara Jaya, Bekasi Barat.
Di ruang belajar itu, anak anak datang dari keluarga yang tidak selalu punya kemampuan membayar biaya pendidikan anak usia dini. Sebagian orang tua mereka bekerja sebagai pemulung, pekerja harian, atau buruh serabutan. Bagi keluarga seperti ini, sekolah gratis menjadi pintu penting agar anak tidak hanya bermain di sekitar lapak barang bekas.
Sekolah yang Berdiri dari Kepedulian Warga
TK Inspirasi Indonesia disebut diinisiasi oleh Firda Febrianti, praktisi pendidikan yang tergerak melihat anak anak pemulung di wilayah tersebut. Media Indonesia menulis bahwa anak anak di sekitar lapak pemulung sebelumnya banyak bermain sepanjang hari karena orang tua mereka bekerja sejak pagi hingga menjelang malam.
Dari keadaan itu, ruang belajar sederhana mulai dibuka. Bukan gedung besar, bukan sekolah dengan fasilitas lengkap, tetapi tempat yang memberi anak anak kesempatan mengenal huruf, angka, doa, lagu, kebersihan, dan cara berinteraksi dengan teman.
Pagi Mengajar, Siang Menjadi ART
Hari Lia dimulai lebih awal dari banyak orang. Ia menyiapkan diri untuk datang ke TK Inspirasi Indonesia pada pagi hari, lalu menghadapi kelas yang penuh anak anak aktif. Setelah jam belajar selesai, ia tidak pulang untuk beristirahat lama, tetapi bergerak lagi menuju pekerjaan berikutnya.
Jadwal Harian yang Padat
JawaPos menulis Lia mengajar dari pukul 08.00 hingga sekitar pukul 10.00 atau 11.00. Setelah shalat Zuhur, ia berangkat bekerja sebagai ART. Bila pekerjaan menumpuk, ia baru pulang sekitar pukul 20.00 WIB. Lia juga menyebut dirinya bekerja di tiga rumah karena satu rumah saja tidak cukup untuk membayar kontrakan.
Rutinitas itu memperlihatkan betapa besar beban yang ia tanggung. Pada pagi hari, ia memanggil anak anak untuk belajar. Pada siang hingga malam, ia membersihkan rumah orang lain, mengurus pekerjaan domestik, lalu pulang dengan tubuh lelah.
Honor Mengajar yang Tidak Cukup untuk Hidup
Lia menerima honor sukarela sekitar Rp 300.000 per bulan dari kegiatan mengajar. Angka ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi ia harus membiayai lima anak sebagai ibu tunggal.
Namun, ia tetap datang ke kelas. Bukan karena honor, melainkan karena ia melihat anak anak itu membutuhkan seseorang yang sabar mendampingi. Di tempat seperti TK Inspirasi Indonesia, kehadiran guru sering menjadi pembeda besar bagi anak yang baru belajar duduk tenang, memegang pensil, membaca huruf, dan menghitung angka.
Sempat Ragu karena Bukan Guru TK
Lia tidak datang dari jalur pendidikan keguruan. Ia tidak memiliki latar formal sebagai guru taman kanak kanak. Pada awalnya, ia sempat ragu apakah mampu mengajar anak usia dini yang membutuhkan kesabaran tinggi.
Diajak oleh Pendiri Sekolah
JawaPos mencatat Lia mulai mengajar di TK Inspirasi sejak 2017 setelah ditawari oleh Firda Febrianti. Saat itu, Lia sempat ragu karena merasa bukan guru TK. Namun, setelah melihat semangat anak anak yang ingin sekolah meski terkendala biaya, ia memilih belajar sambil mengajar.
KG Now menyebut Lia mengajar sejak 2018 tanpa latar belakang pendidikan formal sebagai guru. Perbedaan tahun dalam dua laporan tersebut tidak mengubah inti ceritanya, yaitu Lia telah bertahun tahun mendampingi anak anak di lingkungan pemulung dengan bekal keberanian dan ketekunan.
Belajar Bersama Anak Anak
Lia pernah mengatakan bahwa saat mengajar, ia juga ikut belajar. Kalimat itu menggambarkan posisinya dengan jujur. Ia tidak menampilkan diri sebagai sosok yang tahu segalanya, tetapi sebagai pendamping yang mau bertumbuh bersama murid muridnya.
Di kelas anak usia dini, guru tidak hanya mengajarkan huruf dan angka. Guru juga mengajarkan cara berbagi, menunggu giliran, mengucapkan salam, merapikan alat tulis, duduk tenang, dan berani berbicara. Semua itu membutuhkan kesabaran yang sering tidak terlihat dari luar.
Anak Pemulung Butuh Ruang Belajar yang Ramah
Anak anak dari keluarga pemulung bukan hanya membutuhkan ruang kelas. Mereka membutuhkan lingkungan yang menerima mereka tanpa merendahkan asal keluarga. Di sinilah peran guru seperti Lia menjadi sangat penting.
Belajar Membaca dan Berhitung dari Dasar
KG Now menyebut puluhan anak dari keluarga prasejahtera memulai kegiatan belajar setiap pagi di ruang belajar terbatas. Mereka belajar membaca, berhitung, dan mengenal kegiatan dasar sebelum masuk sekolah formal.
Kemampuan dasar seperti membaca dan berhitung sering dianggap sederhana bagi sebagian keluarga. Namun, bagi anak yang tidak punya akses pendidikan usia dini, kemampuan itu menjadi bekal besar. Saat masuk SD, mereka tidak lagi merasa terlalu jauh tertinggal dari teman sekelas.
Guru yang Juga Menjadi Sosok Pengasuh
Bagi sebagian murid, Lia bukan hanya guru. KG Now menulis kehadirannya dirasakan sebagai sosok yang memberi perhatian seperti orang tua.
Hal ini wajar karena banyak anak di lingkungan pekerja harian menghabiskan waktu tanpa pendampingan penuh dari orang tua. Orang tua mereka harus bekerja panjang untuk mencari nafkah. Ketika anak datang ke sekolah, guru menjadi orang dewasa yang memberi sapaan, aturan, pelukan perhatian, dan rasa aman.
TK Inspirasi Indonesia Berjalan dengan Fasilitas Terbatas
Sekolah ini tidak lahir dari dana besar. Ia tumbuh dari donasi, kemauan warga, dan ketekunan pengelola. Fasilitasnya sederhana, tetapi kegiatannya terus berjalan karena ada kebutuhan nyata dari anak anak sekitar.
Ruang Kecil yang Tetap Diisi Kegiatan
Babel Insight, yang merujuk laporan Kompas, menulis TK Inspirasi Indonesia berada di RT 003 RW 008, Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat. Sekolah ini menyediakan pendidikan gratis bagi anak anak pemulung dan pekerja serabutan, dengan bangunan yang awalnya berupa bedeng kayu lalu direnovasi menjadi lebih layak.
Ruang kelasnya tidak seluas sekolah berbayar. Namun, di tempat itu anak anak belajar mengenal warna, angka, huruf, lagu, doa, dan kebiasaan baik. Dalam keadaan terbatas, pengelola tetap berusaha membuat kegiatan belajar terasa wajar seperti taman kanak kanak lain.
Kurikulum Diusahakan Setara
Firda Budhiardjo, pendiri sekolah, menyebut kurikulum TK Inspirasi Indonesia diusahakan sama dengan sekolah berbayar. Pernyataan ini muncul dalam laporan yang menyebut sekolah tersebut tetap berjalan meski hanya memiliki satu tenaga pendidik di ruang kelas sederhana.
Usaha ini penting agar anak dari keluarga miskin tidak mendapat layanan asal asalan. Mereka berhak belajar dengan susunan kegiatan yang baik, walau sekolahnya gratis dan fasilitasnya sederhana.
Pernah Mengajar Tanpa Dibayar
Salah satu bagian paling kuat dari cerita Lia adalah keputusannya tetap mengajar ketika sekolah sempat tidak memiliki donatur. Bagi orang yang juga harus membayar kontrakan dan membesarkan anak, pilihan itu tentu berat.
Menolak Kelas Dihentikan
JawaPos mencatat Lia pernah mengajar beberapa bulan tanpa dibayar. Saat pendiri sekolah berniat menghentikan kegiatan sementara karena tidak ada donatur, Lia justru meminta agar sekolah tetap berjalan. Ia merasa kasihan kepada anak anak yang rajin datang belajar.
Keputusan itu menunjukkan bahwa bagi Lia, kegiatan belajar anak anak tidak boleh putus hanya karena keadaan dana sedang kosong. Sekali kelas berhenti, anak anak bisa kembali bermain di lapak, kehilangan kebiasaan belajar, lalu makin sulit diajak kembali.
Menjaga Semangat Anak Tetap Menyala
Anak usia dini membutuhkan kebiasaan yang berulang. Mereka perlu datang ke kelas, bertemu guru, membuka buku, menyanyi, lalu pulang dengan pengalaman yang menyenangkan. Jika kebiasaan itu berhenti terlalu lama, kedekatan mereka dengan sekolah bisa memudar.
Lia memahami hal itu dari pengalaman langsung. Ia melihat sendiri bagaimana anak anak yang awalnya belum rapi memegang pensil mulai bisa menulis, bagaimana yang malu mulai berani menjawab, dan bagaimana yang terbiasa berkeliaran mulai mengenal jam belajar.
Tantangan Mengajar di Lingkungan Pemulung
Mengajar di tengah permukiman pemulung memiliki tantangan berbeda. Anak anak datang dari latar keluarga yang beragam, sebagian belum terbiasa dengan aturan kelas, sebagian mudah terdistraksi, dan sebagian membawa kebiasaan dari lingkungan sekitar.
Anak Aktif Perlu Pendekatan Sabar
Laporan Babel Insight menyebut Lia menghadapi lingkungan belajar yang dinamis. Ia menerapkan cara mengajar sabar dan pengaturan posisi duduk untuk mengarahkan perilaku anak yang aktif bergerak dan berbicara.
Dalam kelas kecil, satu anak yang terlalu aktif bisa membuat suasana sulit dikendalikan. Guru harus mengatur tempat duduk, memberi kegiatan berganti, mengajak bernyanyi, mengulang instruksi, dan tetap menjaga suara agar tidak membuat anak takut.
Pendidikan Anak Usia Dini Tidak Mudah
Banyak orang mengira mengajar TK hanya soal bermain. Padahal, guru TK harus peka terhadap perkembangan anak. Ada anak yang belum lancar bicara, ada yang belum bisa memegang alat tulis, ada yang mudah menangis, ada yang sulit duduk lama, dan ada yang membutuhkan pendekatan khusus.
Lia menjalani semua itu tanpa bekal kampus keguruan. Ia belajar dari ruang kelas, dari anak anak, dari arahan pengelola, dan dari pengalaman harian. Cara belajar seperti ini tidak mudah, tetapi ia membuktikan bahwa ketekunan dapat menjadi modal besar.
Ibu Tunggal yang Menafkahi Lima Anak
Di luar ruang kelas, Lia memiliki tanggung jawab keluarga. Ia membesarkan lima anak sebagai ibu tunggal. Keputusan untuk tetap mengajar dengan honor kecil tidak bisa dilepaskan dari kerja kerasnya sebagai ART.
Bekerja di Tiga Rumah
Lia menyebut kepada JawaPos bahwa ia menjadi ART di tiga rumah. Alasannya sederhana, jika hanya bekerja di satu rumah, pendapatannya tidak cukup untuk membayar kontrakan.
Kalimat itu memberi gambaran betapa ketatnya perhitungan hidup Lia. Waktu istirahatnya sedikit. Tenaganya terbagi. Namun, ia tetap menjaga komitmen pada kelas pagi karena ada anak anak yang menunggu.
Menjadi Contoh Nyata bagi Murid
Bagi murid muridnya, Lia tidak hanya memberi pelajaran di papan tulis. Ia menunjukkan bahwa bekerja keras dan peduli kepada orang lain dapat berjalan bersamaan. Anak anak mungkin belum memahami beratnya perjuangan itu, tetapi mereka merasakan kehadirannya setiap pagi.
Kehadiran yang konsisten sering lebih kuat daripada nasihat panjang. Anak yang datang ke kelas dan melihat gurunya selalu ada akan belajar bahwa sekolah adalah tempat yang bisa dipercaya.
Peran Sekolah Gratis di Tengah Kota
Bekasi adalah kota besar dengan pusat ekonomi, perumahan, jalan raya, dan kawasan padat. Namun, di sela kota yang terus bergerak, masih ada kantong keluarga prasejahtera yang membutuhkan pendidikan dasar bagi anak usia dini.
Lapisan Warga yang Tidak Selalu Terlihat
Anak anak pemulung sering hidup dekat dengan tumpukan barang bekas, gerobak, kontrakan sederhana, dan pekerjaan orang tua yang tidak mengenal jam pasti. Mereka tumbuh di kota, tetapi tidak selalu menikmati fasilitas kota secara penuh.
Sekolah seperti TK Inspirasi Indonesia menjadi penghubung antara anak anak itu dan dunia belajar yang lebih tertata. Mereka belajar duduk di kelas, menyebut nama, memegang buku, bernyanyi bersama, dan mengenal kebiasaan sekolah sebelum masuk jenjang berikutnya.
Donasi dan Relawan Menjadi Penopang
KG Now menyebut TK Inspirasi Indonesia terus berjalan tanpa donatur tetap. Kondisi ini membuat kelangsungan sekolah sangat bergantung pada kepedulian masyarakat.
Bantuan tidak selalu harus besar. Buku gambar, alat tulis, mainan edukatif, seragam bekas layak pakai, makanan tambahan, atau dukungan biaya operasional dapat membantu sekolah kecil seperti ini tetap hidup.
Mengapa Cerita Lia Menarik Perhatian Publik
Kisah Lia menyentuh karena memperlihatkan wajah pendidikan dari sisi yang sering luput. Di satu sisi, ada guru dengan honor sangat kecil. Di sisi lain, ada anak anak yang membutuhkan pendidikan gratis.
Bukan Kisah Kasihan Semata
Cerita Lia bukan hanya cerita kesulitan. Ia juga cerita tentang pilihan. Ia bisa saja meninggalkan kelas dan fokus pada pekerjaan ART yang langsung menghasilkan uang. Namun, ia tetap menyediakan pagi untuk murid muridnya.
Pilihan ini membuat publik melihat bahwa pengabdian guru tidak selalu hadir dari ruang yang mapan. Kadang, ia muncul dari seseorang yang hidupnya juga berat, tetapi masih merasa anak lain perlu dibantu.
Hari Guru Terasa Lebih Dekat
Artikel JawaPos tentang Lia diterbitkan pada momen Hari Guru Nasional 2025. Cerita ini membuat peringatan Hari Guru tidak hanya berhenti pada ucapan resmi, tetapi masuk ke ruang kecil tempat anak pemulung belajar membaca.
Di sana, guru tidak selalu memakai seragam rapi dengan ruang kelas lengkap. Guru bisa berupa seorang ibu yang pagi mengajar, siang bekerja di rumah orang, malam pulang membawa lelah, lalu esoknya kembali tersenyum di depan murid.
Anak Anak yang Belajar dari Keterbatasan
Setiap anak di TK Inspirasi Indonesia membawa cerita keluarga masing masing. Ada yang orang tuanya memulung, ada yang bekerja serabutan, ada yang hidup dalam ruang kontrakan kecil. Namun, ketika duduk di kelas, mereka tetap punya hak yang sama untuk belajar.
Kelas Menjadi Tempat Merasa Diperhatikan
Bagi anak usia dini, perhatian guru sangat berarti. Saat namanya dipanggil, gambarnya dipuji, atau tangannya dibantu menulis, anak merasa dirinya penting. Pengalaman kecil seperti ini dapat membentuk rasa percaya diri.
Lia memberi perhatian itu setiap pagi. Ia menghadapi anak yang ribut, yang menangis, yang tidak fokus, dan yang belum terbiasa belajar. Semua dihadapi dengan cara yang ia bangun dari pengalaman panjang.
Belajar agar Tidak Jauh Tertinggal
KG Now menulis bahwa Lia tergerak setelah melihat banyak anak di lingkungannya tidak memiliki akses pendidikan. Dari situlah kegiatan mengajar menjadi sangat penting, karena anak anak ini perlu bekal sebelum masuk sekolah dasar.
Mereka belajar mengenal huruf, angka, warna, bentuk, dan kebiasaan berteman. Hal yang tampak kecil itu dapat membantu anak lebih siap saat masuk kelas satu SD.
Ruang Kecil yang Membutuhkan Banyak Tangan
TK Inspirasi Indonesia dan Lia Sri Mulyani menunjukkan bahwa pendidikan anak miskin kota tidak bisa hanya dibebankan kepada satu dua orang. Sekolah kecil seperti ini memerlukan dukungan terus menerus agar tidak berhenti di tengah jalan.
Pemerintah dan Warga Bisa Menguatkan Layanan
Sekolah gratis berbasis warga sering bergerak lebih cepat menjangkau anak yang tidak tersentuh lembaga formal. Namun, agar bertahan, mereka membutuhkan pendampingan, legalitas, pelatihan guru, bantuan fasilitas, dan dukungan operasional.
Dukungan seperti ini dapat membantu Lia dan pengelola sekolah bekerja lebih ringan. Anak anak tetap mendapat layanan yang baik, sementara guru tidak terus berada dalam keadaan serba kurang.
Kisah Lia Belum Selesai di Ruang Kelas
Setiap pagi, Lia masih datang menemui murid muridnya. Setelah itu, ia masih bekerja sebagai ART untuk menyambung hidup. Dua pekerjaan ini berjalan dalam tubuh yang sama, dengan beban yang sama nyata.
Di Bintara Jaya, anak anak pemulung belajar mengeja, menghitung, bernyanyi, dan menatap hari esok dengan lebih berani. Di depan mereka, Lia berdiri bukan sebagai guru yang sempurna, tetapi sebagai orang dewasa yang memilih tetap hadir ketika banyak hal sebenarnya bisa membuatnya berhenti.
















